Chapter 3
I returned to my room after a nice dinner.
Dark.
Apparently Tobias was gone.
I lay back on the bed. Half grateful, this bed becomes completely mine anymore. After what had happened some time ago, when I was divided into two personalities, I had to give up half of my bed to the other Rachel. Really nightmare.
But luckily all that has passed.
Suddenly the phone rang. Not long after that, Jordan shouted.
"Hey Rachel. For you!"
"From whom?" I replied.
"Jake."
I jumped from my bed and rushed receive calls. Jake is my cousin. He's tall and stocky. He also was the leader of the Animorphs.
"Hey Jake ..." I said.
"Hey Rachel. Mmmm ... I've got some tasty snacks. Yesterday my brother came from India, and he brought lots of these. Perhaps you could come to my house tomorrow. I assure you'd like."
"Okay Jake, I'm definitely coming., You know I most liked that kind of snack. Until tomorrow. Bye ..."
"Bye ..."
Telephone connection disconnected. We did not ever talk frankly if by phone. We worried that our telephone tapped. Anyway, Tom, Jake's brother is the controller. So if we would hold a meeting, we usually use some sort of code language to disguise the actual conversation.
I went back to my room. The rain still fell. I walked to the window and saw the state of the road in front of my house. The streets are very quiet. Occasional dark streets it looks bright, as lightning followed by the sound of thunder.
I lay my body back on the bed. Not long after that, I was asleep.
I do not know how long I was asleep, when I heard a voice calling me.
<Rachel ... Rachel ...!>
I sat down on the bed. I'm still regain my conscious when I realize that it is a language-mind!
"Tobias? Is that you?" I said in the dark.
<Not. I'm not Tobias. I'm also not your other friend.>
I got out of bed and looked around my room.
"Who are you?" I asked.
Ellimist then?
As if reading my mind, a voice was heard again,
<I'm also not Ellimist. Listen, Rachel. You may consider me a part of you. I'm just like you. I ... can also morph.>
I was flabbergasted. Stood my ground. But, how could it? After the unpleasant incident with David, we've made sure no one could touch the blue box again. We've decided, no other Animorphs again.
<I know it sounds absurd. You've sealed blue box, right? The explanation is long. I just want to say, if tomorrow Jake invite you all to do the mission, do not go. Because it's the trap of Visser Three.>
"What, How did you know?"
<I can not explain it now. Trust me and all of you will avoid the trap Visser Three.>
"Where are you now?"
<I was right next to you.>
I looked down. A cockroach.
<Okay. I'm going to go. I just want to say this once again. How interesting the mission later, and how much you wanted to beat the Yeerks, for this time DO NOT GO! Do you understand?>
"I do not know ... I mean, I do not know you. And if it' a trap, usually we always managed to escape."
<You do not understand her. This time is different ... Just do not go, okay?>
"Wait a minute. Did you ... a human?"
There was a pause.
<Yeah, I'm human. I am a girl like you.>
"Then you can demorph and maybe we can chat together in the flesh. Would not it be more comfortable?"
<Yeah, I actually want to do it. But for the moment I can not. Maybe later when it was time.>
I'm getting irritated.
"Why will not you reveal your true form? If you're human, I ask you to demorph now. What are you doing sneaking in my room in the middle of the night as cockroaches and brought news that does not make sense to me?"
Without realizing it, I had half a shout.
Silence.
"HEYYY ... I'M TALKING TO YOU !!!"
I throw a pillow on the floor, I was so annoyed. Apparently she's gone. Why all of a sudden there are other people who can morph? I sat on my bed, bending my knees and buried my face in there. My brain was busy thinking. It seems she knows all about us, I mean Animorphs. What if she's the enemy? Do we have to experience the same event when we had to knock out David?
===
Bab 3
Aku kembali ke kamarku setelah makan malam yang menyenangkan.
Gelap.
Rupanya Tobias sudah pergi.
Aku membaringkan tubuhku di atas pembaringan. Setengah bersyukur, tempat tidur ini menjadi sepenuhnya milikku lagi. Setelah apa yang kualami beberapa waktu yang lalu, ketika aku terbagi menjadi dua kepribadian, aku harus merelakan setengah dari pembaringanku untuk Rachel yang satu lagi. Benar-benar mimpi buruk.
Tapi untunglah semua itu sudah berlalu.
Mendadak telepon berdering. Tak berapa lama terdengar teriakan Jordan.
"Hei Rachel. Telepon untukmu!"
"Dari siapa?" balasku.
"Jake."
Aku melompat dari tempat tidurku dan bergegas menerima telepon. Jake adalah sepupuku yang berbadan jangkung dan kekar. Dia juga adalah pemimpin Animorphs.
"Hei Jake..." kataku.
"Hei Rachel. Mmmm... Aku punya beberapa kudapan enak. Saudaraku dari India kemarin datang, dan dia bawa oleh-oleh banyak sekali. Mungkin kau bisa datang ke rumahku besok. Aku jamin kau pasti suka."
"Okay Jake, aku pasti datang. Kau kan tahu aku paling suka kudapan semacam itu. Sampai besok. Bye..."
"Bye..."
Sambungan telepon diputuskan. Kami memang tidak pernah ngomong terus terang jika lewat telepon. Kami kuatir, telepon kami disadap. Lagian, Tom, kakak Jake adalah Pengendali. Jadi kalau kami akan mengadakan pertemuan, biasanya kami menggunakan semacam bahasa sandi untuk menyamarkan pembicaraan yang sebenarnya.
Aku kembali ke kamarku. Hujan masih saja turun. Aku berjalan ke arah jendela dan melihat keadaan jalan di depan rumahku. Jalanan sangat sepi. Sesekali jalanan yang gelap itu tampak terang, saat kilat menyambar dan diikuti dengan suara guntur yang menggelegar.
Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Tidak berapa lama aku tertidur.
Entah sudah berapa lama aku terlena, saat aku mendengar ada suara memangggilku.
<Rachel... Rachel...!>
Aku duduk di atas tempat tidur. Setengah sadar aku baru memahami kalau itu adalah bahasa-pikiran!
"Tobias? Kaukah itu?" aku berkata di dalam gelap.
<Bukan. Aku bukan Tobias. Aku juga bukan teman-temanmu yang lain.>
Aku bangkit dari tempat tidur dan memandang ke sekeliling kamarku.
"Siapa kau?" tanyaku.
Ellimist kah?
Seolah bisa membaca pikiranku, suara itu terdengar lagi,
<Aku juga bukan Ellimist. Dengar, Rachel. Kau boleh anggap aku bagian dari dirimu. Aku sama sepertimu. Aku... juga bisa morf.>
Aku terperangah. Berdiri mematung di tempatku. Tapi, itu mana mungkin? Setelah kejadian yang tidak mengenakkan bersama David, kami sudah memastikan tidak ada yang bisa menyentuh kotak biru itu lagi. Kami sudah memutuskan, tidak ada Animorphs yang lain lagi.
<Aku tahu kedengarannya tidak masuk akal. Kalian sudah menyegel kotak biru itu, kan? Penjelasannya panjang. Aku hanya mau bilang, jika besok Jake mengajak kalian semua untuk melakukan misi, jangan pergi. Soalnya itu jebakan dari Visser Three.>
"Apa? Darimana kau bisa tahu?"
<Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Percayalah padaku dan kalian semua akan terhindar dari jebakan Visser Three.>
"Dimana kau sekarang?"
<Aku ada tepat di bawahmu.>
Aku melihat ke bawah. Seekor kecoa.
<Okay. Aku akan pergi. Aku hanya mau mengatakan ini sekali lagi. Seberapa menariknya misi itu nanti, dan seberapa inginnya kau menghajar Yeerk, untuk kali ini JANGAN PERGI! Kau mengerti?>
"Aku tidak tahu... Maksudku, aku tidak mengenalmu. Dan kalaupun jebakan, biasanya kami selalu bisa meloloskan diri."
<Kau tidak mengerti Rachel. Kali ini berbeda... Pokoknya jangan pergi, okay?>
"Tunggu dulu. Apa kau ... manusia?"
Hening sejenak.
<Yeah, aku manusia. Aku cewek seperti kau.>
"Kalau begitu kau bisa demorf dan mungkin kita bisa ngobrol bersama dalam wujud manusia. Bukankah itu lebih nyaman?"
<Yeah, aku sebenarnya ingin melakukan itu. Tapi untuk saat ini aku belum bisa. Mungkin nanti jika tiba waktunya.>
Aku mulai jengkel.
"Kenapa kau tidak mau menampakkan wujud aslimu? Kalau kau memang manusia, aku minta kau demorf sekarang. Apa yang kau lakukan mengendap-endap di kamarku tengah malam dalam morf kecoa dan membawa berita yang bagiku tidak masuk akal?"
Tanpa sadar, aku sudah setengah berteriak.
Hening.
"HEIII... AKU BICARA DENGANMU!!!"
Aku melempar bantalku ke lantai saking jengkelnya. Kelihatannya dia sudah pergi. Mengapa tiba-tiba ada orang lain yang bisa morf? Aku duduk di atas tempat tidurku, menekuk kedua lututku dan membenamkan wajahku disana. Otakku sibuk berpikir. Tampaknya dia tahu semua tentang kami, maksudku Animorphs. Bagaimana jika dia musuh? Apakah kami harus mengalami kejadian yang sama saat kami terpaksa harus melumpuhkan David dulu?
===
Senin, 13 Oktober 2014
Minggu, 12 Oktober 2014
FanFiction: "THE TRAVELING" (Rachel) Chapter 2
Chapter 2
"Hey, Rachel. Is that you?"
The figure of Mr. Chapman is getting closer.
I set up my breath, and tried to speak in a tone of voice as calm as possible, though my heart was pounding. I smiled. Innocent smile of a teenage girl.
"Hello Mr. Chapman. Want to exercise?"
Mr. Chapman frowned.
Oh God. He knows ... He knows that just now there is a red-tailed hawk perched on my shoulder.
"Just now you talking to yourself?" he asked. The tone was still contains suspicion.
"Ah sir really? Perhaps you are mistaken," I replied.
Instead of listening to my explanation, the man in front of me is actually looking up. The sunlight dimmed and the atmosphere around us was getting dark.
<Distract!> I heard Tobias language-thought in my mind.
"O yeah sir, we happened to meet here. Did you already read our class proposal for next month?" I tried to distract him from his efforts to look up.
Still some time Mr. Chapman looked up before he gave up.
"Yes. Guess already on my desk. Would I learned tomorrow. Now go home. It's getting dark."
"Ok sir. Bye." I sighed with relief.
He waved his hand and went on his way. Hopefully he did not suspect. Why do I have a feeling that Mr. Chapman could be everywhere? Or, if all this time he's watching my movements? It is strange if the next thing I knew Mr. Chapman could be in the area around my house. What is he doing here?
I make sure the shadow of Mr. Chapman was not seen again before then I tried to call Tobias.
"Tobias! Tobias!"
There was no answer.
I ran along the road. Things have really dark now. Increasingly strong wind gusts night and I heard the sound of thunder in the sky. As I see, the sky is also covered in thick clouds. I speed up my running. My house is two blocks from my current position.
<Hey Rachel. Want to compete with me?>
I again felt the shadow of a bird on top of me and I just shook my head as I continued running. Water droplets of rain began to fall as I turned onto the road that leading to my house. Increasingly heavy. My clothes are completely drenched when I finally got home.
My sister, Jordan, looked at me with a little laugh.
"Hey Rach. How can you so wet all like this?" she asked with a grin.
"It was raining outside, silly," I said, slightly annoyed.
I rushed to the bathroom. Finished showering and changing clothes, I went into my room and looked out the window. Increasingly heavy raindrops. I do not see a red-tailed hawk that usually perched on a tree branch near my window. Maybe Tobias straight back, I thought to myself.
"Rachel. Dinner is ready!" Mom's voice from below.
"I'm coming, Mom!" I replied half-shouted. Just then, I heard a knock at the glass window that is familiar to me. I hurried back to the window and saw a red-tailed hawk looks wet feathers flapping in the rain.
<Damn. I'm so wet all.> Fumed Tobias.
He came into my room.
I giggled. "You should have seen you look in the mirror, Tobias. As a bird, you look funny."
<I do not know Rach. The weather lately is uncertain.>
I approached him and stroked his feathers were wet.
"You'd better morph to human. Later you can drain your body for a while in my room. I'm going downstairs," I said.
<Okay. I think it's a good idea.> replied Tobias and he began to morph.
If you have never seen before metamorphosis process, maybe you will be amazed. Or just cry out of fear. In fact, for those of us who have often morph, This Andalite's creation process of metamorphosis it still looks weird.
I saw a pair of legs of the bird Tobias knew it extends downward. And the claws were quickly replaced by the toes boys. Next, wings seemed to get into his body, and instead, a pair of human hands appear on both sides. At the same time as eagle feathers to disappeared, it is replaced by the human body. And last, the eagle's beak is hooked increasingly shortened, before the real face Tobias replace the bird's face.
He stood there with a tight gymnastics outfit. That's what we have always experienced when we morph. I handed him a towel.
"Thanks Rachel," Tobias said, trying to dry himself. "I will not be long. Soon as my body dry and the rain stops, I'll go from here."
"Okay. Be careful, will you?" I said.
Tobias grinned, holding up his thumb with a clumsy movement. I closed my door, laughing to myself.
===
Bab 2
"Hei, Rachel. Kaukah itu?"
Sosok Mr. Chapman semakin mendekat.
Aku mengatur nafasku, dan berusaha berbicara dengan nada suara setenang mungkin, sekalipun jantungku berdebar kencang. Aku tersenyum. Senyuman polos seorang gadis remaja.
"Halo Mr. Chapman. Mau ikutan jogging?"
Mr. Chapman mengerutkan keningnya.
Oh Tuhan. Dia tahu... Dia tahu kalau barusan ada elang ekor merah yang hinggap di bahuku.
"Barusan kau bicara sendiri?" tanyanya. Nadanya masih mengandung kecurigaan.
"Ah masak Pak? Mungkin Anda salah lihat," jawabku.
Alih-alih mendengarkan penjelasanku, pria di depanku ini malah melihat ke atas. Sinar matahari semakin meredup dan suasana di sekitar kami sudah mulai gelap.
<Alihkan perhatiannya!> aku mendengar bahasa-pikiran Tobias dalam pikiranku.
"O yeah Pak, kebetulan kita ketemu disini. Apa Anda sudah membaca proposal kegiatan kelas kami untuk bulan depan?" aku berusaha mengalihkan perhatiannya dari upayanya untuk menengok ke atas.
Masih beberapa saat Mr. Chapman melihat ke atas sebelum kemudian dia menyerah.
"Ya. Kurasa sudah ada di meja saya. Akan saya pelajari besok. Sekarang pulanglah. Hari semakin gelap."
"Ok Pak. Bye." aku menarik nafas lega.
Dia melambaikan tangan dan meneruskan perjalanannya. Semoga saja dia tidak curiga. Mengapa aku punya perasaan kalau Mr. Chapman bisa berada dimana-mana? Atau, apakah selama ini dia mengawasi gerak-gerikku? Sungguh aneh jika tahu-tahu Mr. Chapman bisa berada di daerah sekitar rumahku. Apa yang dilakukannya disini?
Aku memastikan bayangan Mr. Chapman tidak terlihat lagi sebelum kemudian aku berusaha memanggil Tobias.
"Tobias! Tobias!"
Tidak ada jawaban.
Aku berlari di sepanjang jalan. Keadaan sudah benar-benar gelap sekarang. Hembusan angin malam semakin kencang dan aku mendengar suara guntur di angkasa. Kulihat, langit juga tertutup mendung tebal. Aku mempercepat lariku. Rumahku masih dua blok dari posisiku sekarang.
<Hei Rachel. Kau mau berlomba denganku?>
Aku kembali merasakan bayangan burung di atasku dan aku cuma menggelengkan kepalaku sambil terus berlari. Titik-titik air hujan mulai berjatuhan saat aku membelok ke jalan yang menuju ke rumahku. Makin lama makin deras. Pakaianku benar-benar basah kuyup ketika akhirnya aku sampai di rumah.
Adikku, Jordan, memandangku dengan sedikit menahan tawa.
"Hei Rach. Kau kok bisa basah semua seperti ini?" tanyanya sambil nyengir.
"Di luar hujan, tolol," sahutku sedikit kesal.
Aku bergegas menuju ke kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku masuk ke kamarku dan melongok ke luar jendela. Tetesan air hujan semakin deras. Aku tidak melihat seekor burung elang ekor merah yang biasanya bertengger di dahan pohon di dekat jendela kamarku. Mungkin Tobias langsung kembali, pikirku dalam hati.
"Rachel. Makan malam siap!" terdengar suara Mom dari bawah.
"Aku datang, Mom!" balasku setengah berteriak. Tepat pada saat itu, aku mendengar ketukan di kaca jendela yang tidak asing bagiku. Aku bergegas kembali ke jendela dan kulihat seekor elang ekor merah dalam keadaan basah tampak mengibas-ngibaskan bulunya di tengah hujan.
<Sialan. Aku jadi basah semua.> gerutu Tobias.
Dia masuk ke dalam kamarku.
Aku terkikik. "Mestinya kau lihat tampangmu di cermin, Tobias. Sebagai burung, kau kelihatan lucu sekali."
<Entahlah Rach. Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu.>
Aku mendekatinya dan mengelus bulu-bulunya yang basah.
"Sebaiknya kau morf jadi manusia deh. Nanti kau bisa mengeringkan tubuhmu sebentar di kamarku. Aku akan ke lantai bawah," kataku.
<Okay. Kurasa itu ide bagus.> jawab Tobias dan dia pun mulai morf.
Kalau kau belum pernah melihat proses metamorfosis sebelumnya, mungkin kau akan takjub. Atau justru menjerit ketakutan. Bahkan, bagi kami yang sudah seringkali morf, proses metamorfosis ciptaan bangsa Andalite ini masih terlihat aneh.
Aku melihat sepasang kaki dari burung Tobias tahu-tahu memanjang ke bawah. Dan cakar-cakar itu dengan cepat digantikan oleh jari-jari kaki anak laki-laki. Berikutnya sayapnya seolah masuk ke dalam tubuhnya, dan sebagai gantinya, sepasang tangan manusia muncul di kedua sisinya. Di saat bersamaan bulu-bulu elang seperti masuk ke dalam, digantikan oleh tubuh manusia. Dan terakhir, paruh elang yang bengkok semakin memendek, sebelum kemudian wajah asli Tobias menggantikan wajah burungnya.
Dia berdiri di sana dengan pakaian senam yang ketat. Hal itulah yang selalu kami alami apabila kami morf. Aku menyerahkan selembar handuk kepadanya.
"Thanks Rachel," kata Tobias sambil berusaha mengeringkan tubuhnya. "Aku tidak akan lama. Segera setelah tubuhku kering dan hujan berhenti, aku akan pergi dari sini."
"Okay. Hati-hati ya!" kataku.
Tobias nyengir sambil mengacungkan jempolnya dengan gerakan kikuk. Aku menutup pintu kamarku sambil tertawa dalam hati.
===
"Hey, Rachel. Is that you?"
The figure of Mr. Chapman is getting closer.
I set up my breath, and tried to speak in a tone of voice as calm as possible, though my heart was pounding. I smiled. Innocent smile of a teenage girl.
"Hello Mr. Chapman. Want to exercise?"
Mr. Chapman frowned.
Oh God. He knows ... He knows that just now there is a red-tailed hawk perched on my shoulder.
"Just now you talking to yourself?" he asked. The tone was still contains suspicion.
"Ah sir really? Perhaps you are mistaken," I replied.
Instead of listening to my explanation, the man in front of me is actually looking up. The sunlight dimmed and the atmosphere around us was getting dark.
<Distract!> I heard Tobias language-thought in my mind.
"O yeah sir, we happened to meet here. Did you already read our class proposal for next month?" I tried to distract him from his efforts to look up.
Still some time Mr. Chapman looked up before he gave up.
"Yes. Guess already on my desk. Would I learned tomorrow. Now go home. It's getting dark."
"Ok sir. Bye." I sighed with relief.
He waved his hand and went on his way. Hopefully he did not suspect. Why do I have a feeling that Mr. Chapman could be everywhere? Or, if all this time he's watching my movements? It is strange if the next thing I knew Mr. Chapman could be in the area around my house. What is he doing here?
I make sure the shadow of Mr. Chapman was not seen again before then I tried to call Tobias.
"Tobias! Tobias!"
There was no answer.
I ran along the road. Things have really dark now. Increasingly strong wind gusts night and I heard the sound of thunder in the sky. As I see, the sky is also covered in thick clouds. I speed up my running. My house is two blocks from my current position.
<Hey Rachel. Want to compete with me?>
I again felt the shadow of a bird on top of me and I just shook my head as I continued running. Water droplets of rain began to fall as I turned onto the road that leading to my house. Increasingly heavy. My clothes are completely drenched when I finally got home.
My sister, Jordan, looked at me with a little laugh.
"Hey Rach. How can you so wet all like this?" she asked with a grin.
"It was raining outside, silly," I said, slightly annoyed.
I rushed to the bathroom. Finished showering and changing clothes, I went into my room and looked out the window. Increasingly heavy raindrops. I do not see a red-tailed hawk that usually perched on a tree branch near my window. Maybe Tobias straight back, I thought to myself.
"Rachel. Dinner is ready!" Mom's voice from below.
"I'm coming, Mom!" I replied half-shouted. Just then, I heard a knock at the glass window that is familiar to me. I hurried back to the window and saw a red-tailed hawk looks wet feathers flapping in the rain.
<Damn. I'm so wet all.> Fumed Tobias.
He came into my room.
I giggled. "You should have seen you look in the mirror, Tobias. As a bird, you look funny."
<I do not know Rach. The weather lately is uncertain.>
I approached him and stroked his feathers were wet.
"You'd better morph to human. Later you can drain your body for a while in my room. I'm going downstairs," I said.
<Okay. I think it's a good idea.> replied Tobias and he began to morph.
If you have never seen before metamorphosis process, maybe you will be amazed. Or just cry out of fear. In fact, for those of us who have often morph, This Andalite's creation process of metamorphosis it still looks weird.
I saw a pair of legs of the bird Tobias knew it extends downward. And the claws were quickly replaced by the toes boys. Next, wings seemed to get into his body, and instead, a pair of human hands appear on both sides. At the same time as eagle feathers to disappeared, it is replaced by the human body. And last, the eagle's beak is hooked increasingly shortened, before the real face Tobias replace the bird's face.
He stood there with a tight gymnastics outfit. That's what we have always experienced when we morph. I handed him a towel.
"Thanks Rachel," Tobias said, trying to dry himself. "I will not be long. Soon as my body dry and the rain stops, I'll go from here."
"Okay. Be careful, will you?" I said.
Tobias grinned, holding up his thumb with a clumsy movement. I closed my door, laughing to myself.
===
Bab 2
"Hei, Rachel. Kaukah itu?"
Sosok Mr. Chapman semakin mendekat.
Aku mengatur nafasku, dan berusaha berbicara dengan nada suara setenang mungkin, sekalipun jantungku berdebar kencang. Aku tersenyum. Senyuman polos seorang gadis remaja.
"Halo Mr. Chapman. Mau ikutan jogging?"
Mr. Chapman mengerutkan keningnya.
Oh Tuhan. Dia tahu... Dia tahu kalau barusan ada elang ekor merah yang hinggap di bahuku.
"Barusan kau bicara sendiri?" tanyanya. Nadanya masih mengandung kecurigaan.
"Ah masak Pak? Mungkin Anda salah lihat," jawabku.
Alih-alih mendengarkan penjelasanku, pria di depanku ini malah melihat ke atas. Sinar matahari semakin meredup dan suasana di sekitar kami sudah mulai gelap.
<Alihkan perhatiannya!> aku mendengar bahasa-pikiran Tobias dalam pikiranku.
"O yeah Pak, kebetulan kita ketemu disini. Apa Anda sudah membaca proposal kegiatan kelas kami untuk bulan depan?" aku berusaha mengalihkan perhatiannya dari upayanya untuk menengok ke atas.
Masih beberapa saat Mr. Chapman melihat ke atas sebelum kemudian dia menyerah.
"Ya. Kurasa sudah ada di meja saya. Akan saya pelajari besok. Sekarang pulanglah. Hari semakin gelap."
"Ok Pak. Bye." aku menarik nafas lega.
Dia melambaikan tangan dan meneruskan perjalanannya. Semoga saja dia tidak curiga. Mengapa aku punya perasaan kalau Mr. Chapman bisa berada dimana-mana? Atau, apakah selama ini dia mengawasi gerak-gerikku? Sungguh aneh jika tahu-tahu Mr. Chapman bisa berada di daerah sekitar rumahku. Apa yang dilakukannya disini?
Aku memastikan bayangan Mr. Chapman tidak terlihat lagi sebelum kemudian aku berusaha memanggil Tobias.
"Tobias! Tobias!"
Tidak ada jawaban.
Aku berlari di sepanjang jalan. Keadaan sudah benar-benar gelap sekarang. Hembusan angin malam semakin kencang dan aku mendengar suara guntur di angkasa. Kulihat, langit juga tertutup mendung tebal. Aku mempercepat lariku. Rumahku masih dua blok dari posisiku sekarang.
<Hei Rachel. Kau mau berlomba denganku?>
Aku kembali merasakan bayangan burung di atasku dan aku cuma menggelengkan kepalaku sambil terus berlari. Titik-titik air hujan mulai berjatuhan saat aku membelok ke jalan yang menuju ke rumahku. Makin lama makin deras. Pakaianku benar-benar basah kuyup ketika akhirnya aku sampai di rumah.
Adikku, Jordan, memandangku dengan sedikit menahan tawa.
"Hei Rach. Kau kok bisa basah semua seperti ini?" tanyanya sambil nyengir.
"Di luar hujan, tolol," sahutku sedikit kesal.
Aku bergegas menuju ke kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku masuk ke kamarku dan melongok ke luar jendela. Tetesan air hujan semakin deras. Aku tidak melihat seekor burung elang ekor merah yang biasanya bertengger di dahan pohon di dekat jendela kamarku. Mungkin Tobias langsung kembali, pikirku dalam hati.
"Rachel. Makan malam siap!" terdengar suara Mom dari bawah.
"Aku datang, Mom!" balasku setengah berteriak. Tepat pada saat itu, aku mendengar ketukan di kaca jendela yang tidak asing bagiku. Aku bergegas kembali ke jendela dan kulihat seekor elang ekor merah dalam keadaan basah tampak mengibas-ngibaskan bulunya di tengah hujan.
<Sialan. Aku jadi basah semua.> gerutu Tobias.
Dia masuk ke dalam kamarku.
Aku terkikik. "Mestinya kau lihat tampangmu di cermin, Tobias. Sebagai burung, kau kelihatan lucu sekali."
<Entahlah Rach. Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu.>
Aku mendekatinya dan mengelus bulu-bulunya yang basah.
"Sebaiknya kau morf jadi manusia deh. Nanti kau bisa mengeringkan tubuhmu sebentar di kamarku. Aku akan ke lantai bawah," kataku.
<Okay. Kurasa itu ide bagus.> jawab Tobias dan dia pun mulai morf.
Kalau kau belum pernah melihat proses metamorfosis sebelumnya, mungkin kau akan takjub. Atau justru menjerit ketakutan. Bahkan, bagi kami yang sudah seringkali morf, proses metamorfosis ciptaan bangsa Andalite ini masih terlihat aneh.
Aku melihat sepasang kaki dari burung Tobias tahu-tahu memanjang ke bawah. Dan cakar-cakar itu dengan cepat digantikan oleh jari-jari kaki anak laki-laki. Berikutnya sayapnya seolah masuk ke dalam tubuhnya, dan sebagai gantinya, sepasang tangan manusia muncul di kedua sisinya. Di saat bersamaan bulu-bulu elang seperti masuk ke dalam, digantikan oleh tubuh manusia. Dan terakhir, paruh elang yang bengkok semakin memendek, sebelum kemudian wajah asli Tobias menggantikan wajah burungnya.
Dia berdiri di sana dengan pakaian senam yang ketat. Hal itulah yang selalu kami alami apabila kami morf. Aku menyerahkan selembar handuk kepadanya.
"Thanks Rachel," kata Tobias sambil berusaha mengeringkan tubuhnya. "Aku tidak akan lama. Segera setelah tubuhku kering dan hujan berhenti, aku akan pergi dari sini."
"Okay. Hati-hati ya!" kataku.
Tobias nyengir sambil mengacungkan jempolnya dengan gerakan kikuk. Aku menutup pintu kamarku sambil tertawa dalam hati.
===
Sabtu, 11 Oktober 2014
FanFiction: "THE TRAVELING" (Rachel)
Narrator:
Rachel
Based on Animorphs by K.A Applegate
Created by: Wahyu Kurniawan
Quote:
"Even for a girl, has her own secret..."
Summary:
The war against the Yeerk empire still ongoing. Rachel, the other Animorphs and Ax feel the war is becoming increasingly out of balance. However, to recruit new members, they are still traumatized by their experience with David. Therefore, when Rachel accidentally find someone else who can morph, Animoprhs feel confused. Should they assigned her become a member of the Animorphs and fight together, or ... make the same fate as David?
CHAPTER 1
Dusk.
The sun almost slipped at its place. Dim glow still visible on the western horizon decorate the space. I ran with my running clothes around a few blocks around my house. Same activity that almost I do every afternoon. It was very quiet afternoon. The streets are very quiet, perhaps only one or two cars are passing. Lights on the side of the road even starts. At first glance I saw a red-tailed hawk hovering over me.
<Hi pretty.>
Tobias.
I stopped. Put both hands on my waist and make some cooling-down act. I cleaned the sweat rolling down my face, took a deep breath before then I looked up, saw Tobias already perched on one of the trees near me. I smiled at him. I looked around to make sure no one around before greeting him,
"What are you doing here? Aren't you usually together with Ax?"
<I'm bored. Where's the others?>
He meant of course Jake, my cousin. Cassie my best friend and finally, Marco that sucks.
O yeah. My name is Rachel. You do not ever ask my complete name. Or where I live. Or with whom I go on a date on weekend. Because the situation is getting serious. And we, I mean, I, Tobias, Jake, Cassie, Marco, and Ax have to be careful. Five teenagers coupled with an alien teenager who always staked out the danger.
Before you could wonder, why I can talk to the birds, let me explain. It all started from an incident in the afternoon the same day as this when we accidentally discovered a dying Andalite prince. I bet you are wondering, Andalite? What creature is that? Yeah, you're 100% right. If there are people around you who say that aliens do not exist, they are wrong. We've met with a variety of Alien. Good or very bad. This Andalites, Elfangor, Tobias' father, giving us the ability to morph. We can become any animal that we want, with the DNA absorbs in one time only, then the DNA of animals that will be there forever in us, and if we wanted to, we could be the animal at any time.
Remarkable ability isn't it?
But unfortunately, this technology has some drawbacks. You should not morph more than two hours. If that happens, then you will become that animal throughout your life. You can not return to human form. That's what happened to Tobias. Tobias became nothlit (a term for people who morph exceeded the time limit 2 hours) shortly after we receive this ability from Elfangor.
Pathetic huh? Fortunately we met another creature. Ellimist! He returns the morph ability of Tobias, even allow him go back in time, to absorb his own DNA. So Tobias is now able to return to his human form. But that's just morph. And if he chooses to once again trapped in a human morph, he will not be able to become Animorphs again. He prefers to live his life as a red-tailed hawk instead of having to go back to his old human life.
Then another alien. Yeerks. It looks like a slimy slug. But do not underestimate its appearance, because this slug get into you through your ears and stay in your brain, wrap your brain and its small gap, read all the memories and thoughts, and act as if it was you. No one knows, if a man has become a controller, because they behave reasonable, as the person you knew before. Exactly the same.
So the five of us, along Ax trying to fight the Yeerks, because they had invaded the earth. And the longer, more and more people are used as controllers. As you read this, maybe your parents, your brother, your closest friend already infiltrated by Yeerks. No one ever knew. Unfortunately Yeerks have troops. Hork-Bajir! Almost all the Hork-Bajir has became Controller. And with a body structure that is most like a knife, this creature is suitable for securing to the Yeerk invasion of Earth. Until all humans become controller!
Sounds scary huh?
"Maybe they are at home." I shrugged.
Tobias flew and landed on my shoulder.
"Tobias! What are you doing?" I said. I'm sure no one else around there. Because it was an odd sight. Red-tailed hawk is a bird of prey, so it seems strange if this kind of bird perch on a girl's shoulder.
<It's okay right? After all, the streets are deserted.>
Footsteps approaching. Me and Tobias surprised. Tobias immediately flew to the top. I turned to see who was approaching. My heart stopped beating when I saw who it was.
Vice Principal, Mr. Chapman!
Controller!
===
Narrator:
Rachel
Berdasarkan serial Animorphs by K.A Applegate
Oleh: Wahyu Kurniawan
Quote:
"Bahkan untuk seorang gadis, punya rahasianya sendiri..."
Ringkasan
Perang melawan kekaisaran Yeerk masih terus berlangsung. Rachel, Animorphs yang lain dan Ax merasa perang ini semakin lama semakin tidak seimbang. Namun untuk merekrut anggota baru, mereka masih trauma dengan pengalaman mereka bersama David. Karena itu, ketika Rachel secara tidak sengaja menemukan orang lain yang bisa morf, Animoprhs kebingungan. Haruskah mereka merekrutnya menjadi anggota Animorphs dan berjuang bersama-sama, atau ... membuat nasibnya sama seperti David?
BAB 1
Senja.
Matahari hampir tergelincir di peraduannya. Sinarnya yang redup masih terlihat menghias angkasa di ufuk barat. Aku berlari dengan pakaian joggingku mengitari beberapa blok di sekitar rumahku. Aktivitas yang hampir selalu aku lakukan setiap sore. Suasana sore itu sangat sepi. Jalanan sangat lengang, mungkin hanya satu dua mobil saja yang melintas. Lampu penerangan yang ada di sisi jalan pun mulai dinyalakan. Sekilas aku sempat melihat seekor elang ekor merah melayang di atasku.
<Hai cantik.>
Tobias.
Aku berhenti. Meletakkan kedua tanganku di pinggangku dan melakukan gerakan pendinginan. Aku membersihkan keringat yang membasahi di wajahku, mengatur nafasku sebelum kemudian aku mendongak ke atas, melihat Tobias sudah bertengger di salah satu pohon yang ada di dekatku. Aku tersenyum padanya. Aku melihat sekelilingku untuk memastikan tidak ada orang sebelum menyapanya,
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah biasanya kau bersama Ax?"
<Aku bosan. Yang lain pada kemana?>
Yang dia maksud tentu saja Jake, sepupuku. Cassie sahabat baikku dan akhirnya, si Marco yang menyebalkan.
Oya. Namaku Rachel. Kau jangan pernah menanyakan nama lengkapku. Atau dimana aku tinggal. Atau dengan siapa aku pergi kencan tiap malam minggu. Soalnya situasinya bertambah gawat. Dan kami, maksudku, aku, Tobias, Jake, Cassie, Marco dan Ax harus berhati-hati. Lima remaja ditambah dengan satu alien remaja yang selalu diintai bahaya.
Sebelum kau sempat keheranan, kenapa aku bisa berbicara dengan burung, biar aku jelaskan. Semua berawal dari suatu kejadian di sore hari yang sama seperti ini ketika kami secara tidak sengaja menemukan seorang Pangeran Andalite yang sekarat. Pasti kau bertanya-tanya, Andalite? Makhluk apa itu? Yeah, dugaanmu 100% tepat. Jika ada orang disekelilingmu yang mengatakan kalau Alien itu tidak ada, mereka salah. Kami sudah bertemu dengan bermacam-macam Alien. Yang baik ataupun yang sangat jahat. Andalite ini, Elfangor, ayah Tobias, memberi kami kemampuan morf. Kami bisa menjadi hewan apapun yang kami mau, dengan cukup menyerap DNAnya satu kali saja, maka DNA hewan itu selamanya akan ada di dalam diri kami, dan jika kami mau, kami bisa menjadi hewan itu kapan saja.
Kemampuan yang luar biasa bukan?
Tapi sayangnya, teknologi ini punya kekurangan. Kau tidak boleh morf lebih dari dua jam. Jika itu terjadi, maka kau akan menjadi hewan itu sepanjang hidupmu. Kau tidak bisa kembali lagi ke wujud manusia. Itulah yang terjadi pada Tobias. Tobias menjadi nothlit (sebutan untuk orang yang morf melebihi batas waktu 2 jam) tidak lama setelah kami menerima kemampuan ini dari Elfangor.
Menyedihkan ya? Untungnya kami berjumpa dengan makhluk lain. Ellimist! Dia mengembalikan kemampuan morf Tobias, bahkan dia mengijinkan Tobias mundur dalam waktu, untuk menyerap DNAnya sendiri. Jadi Tobias saat ini bisa kembali ke bentuk manusianya. Tapi itu hanya morf. Dan jika dia memilih untuk sekali lagi terjebak dalam morf manusianya, dia tidak akan bisa menjadi Animorphs lagi. Dia lebih memilih menjalani hidupnya sebagai burung elang ekor merah daripada harus kembali ke kehidupan manusianya yang dulu.
Lalu alien yang satu lagi. Yeerk. Memang bentuknya seperti siput berlendir. Tapi jangan remehkan penampilannya, karena siput ini bisa masuk ke dalam dirimu melalui telingamu dan tinggal di dalam otakmu, membungkus setiap celah kecil otakmu, membaca setiap kenangan dan pikiranmu, dan bertindak seolah-olah itu kau. Tidak ada yang tahu, jika seorang manusia sudah menjadi Pengendali, soalnya mereka bertingkah laku wajar, seperti orang yang kau kenal sebelumnya. Sama persis.
Jadi kami berlima, bersama Ax berusaha memerangi Yeerk, soalnya mereka sudah menyerbu ke bumi. Dan semakin lama, semakin banyak manusia yang dijadikan Pengendali. Selagi kau membaca ini, mungkin orang tuamu, saudaramu, teman terdekatmu sudah disusupi Yeerk. Tidak ada yang pernah tahu. Sayangnya Yeerk punya pasukan. Hork-Bajir! Hampir semua Hork-Bajir dijadikan Pengendali. Dan dengan struktur tubuhnya yang kebanyakan seperti pisau, makhluk ini sangat cocok digunakan untuk mengamankan invasi Yeerk ke bumi. Sampai semua manusia menjadi Pengendali!
Kedengarannya menakutkan ya?
"Mungkin lagi di rumahnya masing-masing." Aku mengangkat bahu.
Tobias terbang dan hinggap di bahuku.
"Tobias! Apa yang kau lakukan?" kataku. Aku memastikan tidak ada orang lain di sekitar sana. Soalnya itu pemandangan yang ganjil. Elang ekor merah adalah burung pemangsa, jadi kelihatan aneh jika burung yang satu ini bisa hinggap di bahunya cewek.
<Tidak apa-apa kan? Toh jalanan sedang sepi.>
Terdengar langkah-langkah mendekat. Aku dan Tobias terkejut. Tobias segera terbang ke atas. Aku berpaling untuk melihat siapa yang mendekat. Jantungku seolah berhenti berdetak saat kulihat siapa orangnya.
Wakil Kepala Sekolah, Mr. Chapman!
Pengendali!
===
Dari Penulis:
Hallo Teman-teman pencinta Animorphs!
Just say tune di blog ini untuk mendapatkan edisi Indonesia dari Animorphs yang tidak pernah diterbitkan di Indonesia.
Selain itu, saya juga mengundang teman2 yang jago nulis untuk memanfaatkan blog ini sebagai sarana imajinasi kalian. Syaratnya, tulisan yang kalian buat jangan sampai mengubah penokohan Animorphs yang sudah kita kenal dan harus mengikuti alur Animorphs yang original. Jadi tolong jangan membuat twist cerita, misalnya menghidupkan kembali karakter yang nantinya akan gugur di akhir serial keren ini. Sebaiknya kita bisa membuat cerita sendiri yang mana merupakan perjalanan panjang Animorphs dalam melawan Yeerk.
Nah selagi menunggu karya2 kalian, enjoy tulisan saya diatas ya... Segala masukan ataupun kritikan akan saya terima dengan senang hati.
Thank you... :)
Rachel
Based on Animorphs by K.A Applegate
Created by: Wahyu Kurniawan
Quote:
"Even for a girl, has her own secret..."
Summary:
The war against the Yeerk empire still ongoing. Rachel, the other Animorphs and Ax feel the war is becoming increasingly out of balance. However, to recruit new members, they are still traumatized by their experience with David. Therefore, when Rachel accidentally find someone else who can morph, Animoprhs feel confused. Should they assigned her become a member of the Animorphs and fight together, or ... make the same fate as David?
CHAPTER 1
Dusk.
The sun almost slipped at its place. Dim glow still visible on the western horizon decorate the space. I ran with my running clothes around a few blocks around my house. Same activity that almost I do every afternoon. It was very quiet afternoon. The streets are very quiet, perhaps only one or two cars are passing. Lights on the side of the road even starts. At first glance I saw a red-tailed hawk hovering over me.
<Hi pretty.>
Tobias.
I stopped. Put both hands on my waist and make some cooling-down act. I cleaned the sweat rolling down my face, took a deep breath before then I looked up, saw Tobias already perched on one of the trees near me. I smiled at him. I looked around to make sure no one around before greeting him,
"What are you doing here? Aren't you usually together with Ax?"
<I'm bored. Where's the others?>
He meant of course Jake, my cousin. Cassie my best friend and finally, Marco that sucks.
O yeah. My name is Rachel. You do not ever ask my complete name. Or where I live. Or with whom I go on a date on weekend. Because the situation is getting serious. And we, I mean, I, Tobias, Jake, Cassie, Marco, and Ax have to be careful. Five teenagers coupled with an alien teenager who always staked out the danger.
Before you could wonder, why I can talk to the birds, let me explain. It all started from an incident in the afternoon the same day as this when we accidentally discovered a dying Andalite prince. I bet you are wondering, Andalite? What creature is that? Yeah, you're 100% right. If there are people around you who say that aliens do not exist, they are wrong. We've met with a variety of Alien. Good or very bad. This Andalites, Elfangor, Tobias' father, giving us the ability to morph. We can become any animal that we want, with the DNA absorbs in one time only, then the DNA of animals that will be there forever in us, and if we wanted to, we could be the animal at any time.
Remarkable ability isn't it?
But unfortunately, this technology has some drawbacks. You should not morph more than two hours. If that happens, then you will become that animal throughout your life. You can not return to human form. That's what happened to Tobias. Tobias became nothlit (a term for people who morph exceeded the time limit 2 hours) shortly after we receive this ability from Elfangor.
Pathetic huh? Fortunately we met another creature. Ellimist! He returns the morph ability of Tobias, even allow him go back in time, to absorb his own DNA. So Tobias is now able to return to his human form. But that's just morph. And if he chooses to once again trapped in a human morph, he will not be able to become Animorphs again. He prefers to live his life as a red-tailed hawk instead of having to go back to his old human life.
Then another alien. Yeerks. It looks like a slimy slug. But do not underestimate its appearance, because this slug get into you through your ears and stay in your brain, wrap your brain and its small gap, read all the memories and thoughts, and act as if it was you. No one knows, if a man has become a controller, because they behave reasonable, as the person you knew before. Exactly the same.
So the five of us, along Ax trying to fight the Yeerks, because they had invaded the earth. And the longer, more and more people are used as controllers. As you read this, maybe your parents, your brother, your closest friend already infiltrated by Yeerks. No one ever knew. Unfortunately Yeerks have troops. Hork-Bajir! Almost all the Hork-Bajir has became Controller. And with a body structure that is most like a knife, this creature is suitable for securing to the Yeerk invasion of Earth. Until all humans become controller!
Sounds scary huh?
"Maybe they are at home." I shrugged.
Tobias flew and landed on my shoulder.
"Tobias! What are you doing?" I said. I'm sure no one else around there. Because it was an odd sight. Red-tailed hawk is a bird of prey, so it seems strange if this kind of bird perch on a girl's shoulder.
<It's okay right? After all, the streets are deserted.>
Footsteps approaching. Me and Tobias surprised. Tobias immediately flew to the top. I turned to see who was approaching. My heart stopped beating when I saw who it was.
Vice Principal, Mr. Chapman!
Controller!
===
Narrator:
Rachel
Berdasarkan serial Animorphs by K.A Applegate
Oleh: Wahyu Kurniawan
Quote:
"Bahkan untuk seorang gadis, punya rahasianya sendiri..."
Ringkasan
Perang melawan kekaisaran Yeerk masih terus berlangsung. Rachel, Animorphs yang lain dan Ax merasa perang ini semakin lama semakin tidak seimbang. Namun untuk merekrut anggota baru, mereka masih trauma dengan pengalaman mereka bersama David. Karena itu, ketika Rachel secara tidak sengaja menemukan orang lain yang bisa morf, Animoprhs kebingungan. Haruskah mereka merekrutnya menjadi anggota Animorphs dan berjuang bersama-sama, atau ... membuat nasibnya sama seperti David?
BAB 1
Senja.
Matahari hampir tergelincir di peraduannya. Sinarnya yang redup masih terlihat menghias angkasa di ufuk barat. Aku berlari dengan pakaian joggingku mengitari beberapa blok di sekitar rumahku. Aktivitas yang hampir selalu aku lakukan setiap sore. Suasana sore itu sangat sepi. Jalanan sangat lengang, mungkin hanya satu dua mobil saja yang melintas. Lampu penerangan yang ada di sisi jalan pun mulai dinyalakan. Sekilas aku sempat melihat seekor elang ekor merah melayang di atasku.
<Hai cantik.>
Tobias.
Aku berhenti. Meletakkan kedua tanganku di pinggangku dan melakukan gerakan pendinginan. Aku membersihkan keringat yang membasahi di wajahku, mengatur nafasku sebelum kemudian aku mendongak ke atas, melihat Tobias sudah bertengger di salah satu pohon yang ada di dekatku. Aku tersenyum padanya. Aku melihat sekelilingku untuk memastikan tidak ada orang sebelum menyapanya,
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah biasanya kau bersama Ax?"
<Aku bosan. Yang lain pada kemana?>
Yang dia maksud tentu saja Jake, sepupuku. Cassie sahabat baikku dan akhirnya, si Marco yang menyebalkan.
Oya. Namaku Rachel. Kau jangan pernah menanyakan nama lengkapku. Atau dimana aku tinggal. Atau dengan siapa aku pergi kencan tiap malam minggu. Soalnya situasinya bertambah gawat. Dan kami, maksudku, aku, Tobias, Jake, Cassie, Marco dan Ax harus berhati-hati. Lima remaja ditambah dengan satu alien remaja yang selalu diintai bahaya.
Sebelum kau sempat keheranan, kenapa aku bisa berbicara dengan burung, biar aku jelaskan. Semua berawal dari suatu kejadian di sore hari yang sama seperti ini ketika kami secara tidak sengaja menemukan seorang Pangeran Andalite yang sekarat. Pasti kau bertanya-tanya, Andalite? Makhluk apa itu? Yeah, dugaanmu 100% tepat. Jika ada orang disekelilingmu yang mengatakan kalau Alien itu tidak ada, mereka salah. Kami sudah bertemu dengan bermacam-macam Alien. Yang baik ataupun yang sangat jahat. Andalite ini, Elfangor, ayah Tobias, memberi kami kemampuan morf. Kami bisa menjadi hewan apapun yang kami mau, dengan cukup menyerap DNAnya satu kali saja, maka DNA hewan itu selamanya akan ada di dalam diri kami, dan jika kami mau, kami bisa menjadi hewan itu kapan saja.
Kemampuan yang luar biasa bukan?
Tapi sayangnya, teknologi ini punya kekurangan. Kau tidak boleh morf lebih dari dua jam. Jika itu terjadi, maka kau akan menjadi hewan itu sepanjang hidupmu. Kau tidak bisa kembali lagi ke wujud manusia. Itulah yang terjadi pada Tobias. Tobias menjadi nothlit (sebutan untuk orang yang morf melebihi batas waktu 2 jam) tidak lama setelah kami menerima kemampuan ini dari Elfangor.
Menyedihkan ya? Untungnya kami berjumpa dengan makhluk lain. Ellimist! Dia mengembalikan kemampuan morf Tobias, bahkan dia mengijinkan Tobias mundur dalam waktu, untuk menyerap DNAnya sendiri. Jadi Tobias saat ini bisa kembali ke bentuk manusianya. Tapi itu hanya morf. Dan jika dia memilih untuk sekali lagi terjebak dalam morf manusianya, dia tidak akan bisa menjadi Animorphs lagi. Dia lebih memilih menjalani hidupnya sebagai burung elang ekor merah daripada harus kembali ke kehidupan manusianya yang dulu.
Lalu alien yang satu lagi. Yeerk. Memang bentuknya seperti siput berlendir. Tapi jangan remehkan penampilannya, karena siput ini bisa masuk ke dalam dirimu melalui telingamu dan tinggal di dalam otakmu, membungkus setiap celah kecil otakmu, membaca setiap kenangan dan pikiranmu, dan bertindak seolah-olah itu kau. Tidak ada yang tahu, jika seorang manusia sudah menjadi Pengendali, soalnya mereka bertingkah laku wajar, seperti orang yang kau kenal sebelumnya. Sama persis.
Jadi kami berlima, bersama Ax berusaha memerangi Yeerk, soalnya mereka sudah menyerbu ke bumi. Dan semakin lama, semakin banyak manusia yang dijadikan Pengendali. Selagi kau membaca ini, mungkin orang tuamu, saudaramu, teman terdekatmu sudah disusupi Yeerk. Tidak ada yang pernah tahu. Sayangnya Yeerk punya pasukan. Hork-Bajir! Hampir semua Hork-Bajir dijadikan Pengendali. Dan dengan struktur tubuhnya yang kebanyakan seperti pisau, makhluk ini sangat cocok digunakan untuk mengamankan invasi Yeerk ke bumi. Sampai semua manusia menjadi Pengendali!
Kedengarannya menakutkan ya?
"Mungkin lagi di rumahnya masing-masing." Aku mengangkat bahu.
Tobias terbang dan hinggap di bahuku.
"Tobias! Apa yang kau lakukan?" kataku. Aku memastikan tidak ada orang lain di sekitar sana. Soalnya itu pemandangan yang ganjil. Elang ekor merah adalah burung pemangsa, jadi kelihatan aneh jika burung yang satu ini bisa hinggap di bahunya cewek.
<Tidak apa-apa kan? Toh jalanan sedang sepi.>
Terdengar langkah-langkah mendekat. Aku dan Tobias terkejut. Tobias segera terbang ke atas. Aku berpaling untuk melihat siapa yang mendekat. Jantungku seolah berhenti berdetak saat kulihat siapa orangnya.
Wakil Kepala Sekolah, Mr. Chapman!
Pengendali!
===
Dari Penulis:
Hallo Teman-teman pencinta Animorphs!
Just say tune di blog ini untuk mendapatkan edisi Indonesia dari Animorphs yang tidak pernah diterbitkan di Indonesia.
Selain itu, saya juga mengundang teman2 yang jago nulis untuk memanfaatkan blog ini sebagai sarana imajinasi kalian. Syaratnya, tulisan yang kalian buat jangan sampai mengubah penokohan Animorphs yang sudah kita kenal dan harus mengikuti alur Animorphs yang original. Jadi tolong jangan membuat twist cerita, misalnya menghidupkan kembali karakter yang nantinya akan gugur di akhir serial keren ini. Sebaiknya kita bisa membuat cerita sendiri yang mana merupakan perjalanan panjang Animorphs dalam melawan Yeerk.
Nah selagi menunggu karya2 kalian, enjoy tulisan saya diatas ya... Segala masukan ataupun kritikan akan saya terima dengan senang hati.
Thank you... :)
Animorphs edisi 34 - Review
Kendatipun tokoh Cassie ini bukan merupakan tokoh favorit saya, tapi saya cukup suka dengan edisi 34 ini. Soalnya petualangan yang harus dialami oleh Animorphs berbeda dengan petualangan mereka yang biasanya. Sekalipun pernah juga di beberapa edisi, mereka diharuskan untuk bertualang di planet lain yang notabene sangat jauh dari bumi, melawan ras alien baru, dimana mereka harus mengenal ciri-cirinya terlebih dahulu, tapi baru di edisi ini, mereka bisa datang ke planet asal Hork-Bajir.
Edisi 34 ini diterjemahkan dengan sangat apik oleh teman saya Dewi, yang juga menjadi penggagas berdirinya blog ini Di edisi ini memang sarat oleh penggambaran/deskripsi dari planet Hork-Bajir, jadi apabila dalam proses terjemahannya ada yang meleset, tentunya gambarannya menjadi kurang akurat. Hal yang cukup membuat edisi ini unik adalah dengan adanya satu karakter yang "menyusup" ke tubuh Cassie. Aneh juga ya, melihat backgroundnya yang adalah seorang petarung tangguh, harusnya yang disusupi adalah Rachel dan bukannya Cassie. Tapi saat membaca bukunya nanti, kita akan tahu mengapa yang disusupi adalah Cassie.
Tentu saja edisi 34 ini juga merupakan cerita lepas, yang semata-mata dapat dibaca untuk selingan, karena tidak ada informasi yang dapat dijadikan acuan untuk edisi-edisi selanjutnya. Secara keseluruhan, edisi 34 ini tetaplah menarik untuk dibaca. Langsung saja download ebook edisi 34 dalam bahasa indonesia disini:
Mediafire
Edisi 34 ini diterjemahkan dengan sangat apik oleh teman saya Dewi, yang juga menjadi penggagas berdirinya blog ini Di edisi ini memang sarat oleh penggambaran/deskripsi dari planet Hork-Bajir, jadi apabila dalam proses terjemahannya ada yang meleset, tentunya gambarannya menjadi kurang akurat. Hal yang cukup membuat edisi ini unik adalah dengan adanya satu karakter yang "menyusup" ke tubuh Cassie. Aneh juga ya, melihat backgroundnya yang adalah seorang petarung tangguh, harusnya yang disusupi adalah Rachel dan bukannya Cassie. Tapi saat membaca bukunya nanti, kita akan tahu mengapa yang disusupi adalah Cassie.
Tentu saja edisi 34 ini juga merupakan cerita lepas, yang semata-mata dapat dibaca untuk selingan, karena tidak ada informasi yang dapat dijadikan acuan untuk edisi-edisi selanjutnya. Secara keseluruhan, edisi 34 ini tetaplah menarik untuk dibaca. Langsung saja download ebook edisi 34 dalam bahasa indonesia disini:
Mediafire
Jumat, 10 Oktober 2014
Animorphs edisi 33 selesai ditranslate
Akhirnya... Setelah cukup lama menunggu, selesai juga proses translate Animorphs edisi ke 33 dengan tokoh utama Tobias.
Bagi teman-teman yang sudah pernah membaca versi Inggrisnya, mungkin ada banyak hal yang mengganggu di pikiran kita saat membaca edisi ini. Salah satunya adalah betapa menyedihkan kisah kehidupan Tobias yang digambarkan dengan sangat nyata, bahwa tak seorangpun yang menginginkan dia ada di dunia ini (tentu saja kecuali teman-teman Animorphs-nya dan salah satu gurunya sewaktu dia masih bersekolah). Lalu dengan kondisinya yang begitu menyedihkan, masih ditambah lagi dengan kehidupannya sebagai nothlit (untungnya kemampuan morfnya dikembalikan lagi oleh si Ellimist) Saya masih ingat betapa Tobias dalam wujud burungnya harus berjuang sedemikian rupa untuk bisa menerima keadaannya, dimana dia harus berburu mangsanya untuk dapat bertahan hidup. Lalu, setelah dia mendapatkan harapan baru agar bisa kembali ke bentuk manusianya, ternyata yang dikembalikan kepadanya hanyalah kemampuan morf-nya, dan dia masih harus menjalani hari-harinya sebagai burung. Entah mengapa, sejak dari edisi awal, sosok Tobias digambarkan sebagai sosok yang berjiwa kepahlawanan (atau karena dia mewarisi darah Elfangor?). Dia adalah orang pertama diantara teman-temannya yang sangat antusias ketika menerima kemampuan morf, ketika bahkan Marco menolak berjuang pada awalnya (padahal nama group Animorphs, dia yang buat) Kondisinya diperburuk dengan penggambaran fisiknya yang lemah, cengeng dan selalu menjadi bulan-bulanan oleh teman-temannya yang nakal. Dan bahkan Tobias sudah menjadi nothlit sejak edisi kedua, dimana di edisi-edisi selanjutnya, dia hanya bisa bertarung sebagai burung sebelum Ellimist mengembalikan kemampuan morfnya.
Namun terlepas dari kepahlawanannya, untuk edisi kali ini, Tobias memang yang paling tepat untuk menjalankan misi. Hanya saja yang luput dari perhitungan Animorphs, saat AMR tidak bekerja, tentu saja Yeerk pasti bermaksud mengambil Andalite untuk dijadikan induk semang buat Yeerk yang lainnya. Dan hal itu membuat Tobias, sekali lagi, harus menderita. Wah, kok bisa ya karakter Tobias ini dibuat seolah-olah hanya untuk menderita? T_T
Oke, silakan didownload edisi 33 nya
https://www.mediafire.com/?g2v5hnnkar9j2s2
(Dan jangan lupa, kami masih mencari teman-teman yang ingin memberikan bantuan dalam bentuk apapun, agar project ini bisa sampai selesai pada akhirnya)
Thank you guys.
Bagi teman-teman yang sudah pernah membaca versi Inggrisnya, mungkin ada banyak hal yang mengganggu di pikiran kita saat membaca edisi ini. Salah satunya adalah betapa menyedihkan kisah kehidupan Tobias yang digambarkan dengan sangat nyata, bahwa tak seorangpun yang menginginkan dia ada di dunia ini (tentu saja kecuali teman-teman Animorphs-nya dan salah satu gurunya sewaktu dia masih bersekolah). Lalu dengan kondisinya yang begitu menyedihkan, masih ditambah lagi dengan kehidupannya sebagai nothlit (untungnya kemampuan morfnya dikembalikan lagi oleh si Ellimist) Saya masih ingat betapa Tobias dalam wujud burungnya harus berjuang sedemikian rupa untuk bisa menerima keadaannya, dimana dia harus berburu mangsanya untuk dapat bertahan hidup. Lalu, setelah dia mendapatkan harapan baru agar bisa kembali ke bentuk manusianya, ternyata yang dikembalikan kepadanya hanyalah kemampuan morf-nya, dan dia masih harus menjalani hari-harinya sebagai burung. Entah mengapa, sejak dari edisi awal, sosok Tobias digambarkan sebagai sosok yang berjiwa kepahlawanan (atau karena dia mewarisi darah Elfangor?). Dia adalah orang pertama diantara teman-temannya yang sangat antusias ketika menerima kemampuan morf, ketika bahkan Marco menolak berjuang pada awalnya (padahal nama group Animorphs, dia yang buat) Kondisinya diperburuk dengan penggambaran fisiknya yang lemah, cengeng dan selalu menjadi bulan-bulanan oleh teman-temannya yang nakal. Dan bahkan Tobias sudah menjadi nothlit sejak edisi kedua, dimana di edisi-edisi selanjutnya, dia hanya bisa bertarung sebagai burung sebelum Ellimist mengembalikan kemampuan morfnya.
Namun terlepas dari kepahlawanannya, untuk edisi kali ini, Tobias memang yang paling tepat untuk menjalankan misi. Hanya saja yang luput dari perhitungan Animorphs, saat AMR tidak bekerja, tentu saja Yeerk pasti bermaksud mengambil Andalite untuk dijadikan induk semang buat Yeerk yang lainnya. Dan hal itu membuat Tobias, sekali lagi, harus menderita. Wah, kok bisa ya karakter Tobias ini dibuat seolah-olah hanya untuk menderita? T_T
Oke, silakan didownload edisi 33 nya
https://www.mediafire.com/?g2v5hnnkar9j2s2
(Dan jangan lupa, kami masih mencari teman-teman yang ingin memberikan bantuan dalam bentuk apapun, agar project ini bisa sampai selesai pada akhirnya)
Thank you guys.
Kamis, 09 Oktober 2014
Animorphs edisi 32 - Review
Edisi 32 ini adalah edisi pertama yang ditranslate setelah salah seorang fans Animorphs, yang telah melakukan proses terjemahan sebanyak 4 edisi berturut-turut, tampaknya sudah tidak melanjutkan ke edisi selanjutnya.
Saya mungkin seorang dari sekian banyak fans nya Rachel, jadi awalnya cukup senang saat mendapat kesempatan untuk terjemahin edisi 32 ini. Sebelumnya saya memang belum pernah membaca ceritanya. Ternyata setelah masuk ke dalamnya, saya menjumpai sosok Rachel yang tidak seperti biasanya. Jadi awalnya juga agak kaget, tapi apa mau dikata, terjemahan tetap jalan terus sekalipun penokohan Rachel yang saya dapatkan sangat jauh berbeda dengan tokoh Rachel yang biasanya kita kenal.
Dan secara keseluruhan, edisi 32 ini menurut saya agak membosankan. Karena ceritanya berkisar pada konflik internal antar anggotanya sendiri. Untungnya masih ada misi yang harus diselesaikan, yaitu menyusup ke markas Yeerk untuk menghancurkan senjata AMR (kisah ini berlanjut di edisi 33 selanjutnya). Dan parahnya lagi, edisi 32 ini tidak banyak mengupas tentang misteri atau rahasia apapun yang mungkin bisa berlanjut di edisi2 selanjutnya. Dengan kata lain, kalaupun kita tidak membaca edisi 32 ini, kita tidak akan ketinggalan informasi di edisi selanjutnya. Untuk proses translatenya sendiri sebenarnya cukup menantang, karena kita dihadapkan pada dua tokoh yang sama2 menjadi narrator (sudut pandang orang pertama) namun mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Dan di awal buku, pada field trip, ada cukup banyak bahasa indah ataupun idiom yang digunakan, sehingga untuk translatenya juga tidak bisa langsung kata-per-kata.
Namun, overall, edisi 32 ini tetaplah menarik untuk dibaca. Silakan langsung download linknya disini... https://www.mediafire.com/?qbat4acqez2hjrw
Saya mungkin seorang dari sekian banyak fans nya Rachel, jadi awalnya cukup senang saat mendapat kesempatan untuk terjemahin edisi 32 ini. Sebelumnya saya memang belum pernah membaca ceritanya. Ternyata setelah masuk ke dalamnya, saya menjumpai sosok Rachel yang tidak seperti biasanya. Jadi awalnya juga agak kaget, tapi apa mau dikata, terjemahan tetap jalan terus sekalipun penokohan Rachel yang saya dapatkan sangat jauh berbeda dengan tokoh Rachel yang biasanya kita kenal.
Dan secara keseluruhan, edisi 32 ini menurut saya agak membosankan. Karena ceritanya berkisar pada konflik internal antar anggotanya sendiri. Untungnya masih ada misi yang harus diselesaikan, yaitu menyusup ke markas Yeerk untuk menghancurkan senjata AMR (kisah ini berlanjut di edisi 33 selanjutnya). Dan parahnya lagi, edisi 32 ini tidak banyak mengupas tentang misteri atau rahasia apapun yang mungkin bisa berlanjut di edisi2 selanjutnya. Dengan kata lain, kalaupun kita tidak membaca edisi 32 ini, kita tidak akan ketinggalan informasi di edisi selanjutnya. Untuk proses translatenya sendiri sebenarnya cukup menantang, karena kita dihadapkan pada dua tokoh yang sama2 menjadi narrator (sudut pandang orang pertama) namun mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Dan di awal buku, pada field trip, ada cukup banyak bahasa indah ataupun idiom yang digunakan, sehingga untuk translatenya juga tidak bisa langsung kata-per-kata.
Namun, overall, edisi 32 ini tetaplah menarik untuk dibaca. Silakan langsung download linknya disini... https://www.mediafire.com/?qbat4acqez2hjrw
Rabu, 08 Oktober 2014
Blog Animorphs Translation Project
Jika Anda suka membaca novel fiksi remaja di tahun 97-98, mungkin Anda pernah tahu ada sebuah serial remaja yang berjudul Animorphs, yang mengisahkan sepak terjang kelima remaja manusia ditambah dengan seorang remaja alien, yang disebut Andalite. Jake, Rachel, Tobias, Cassie, Marco dan Ax. Keenam remaja ini bertempur melawan invasi Yeerk ke bumi. Yeerk adalah alien yang lain lagi, yang dalam kondisi normalnya sangat lemah, karena bentuknya seperti siput. Tapi kemampuan yang dimilikinya sangatlah luar biasa dimana mereka bisa memperbudak makhluk lain, termasuk manusia. Sepanjang perjalanan novel Animorphs ini menceritakan perlawanan sengit Animorphs melawan Yeerk dengan dibumbui kisah asmara yang terjalin antar anggotanya dan juga lelucon kocak khas remaja masa itu.
Namun sayangnya, sekalipun edisi aslinya dicetak sampai seri ke 54, di Indonesia, serial ini hanya diterjemahkan sampai seri ke 27 saja karena sesuatu alasan. Dan kebetulan ada salah seorang fans yang dengan baik hati menterjemahkan serial Animorphs untuk edisi ke 28, 29, 30 dan 31, yang dapat dilihat melalui blognya di https://hystericalinside.wordpress.com/tag/terjemahan-animorphs/
Sayang, setelah seri ke 31,kelihatannya beliau sudah tidak aktif untuk menterjemahkan seri-seri berikutnya.
Belakangan, saat berselancar di internet, saya menjumpai sebuah group bernama Animorphs Indonesia yang ada di facebook. Saya jadi tahu bahwa fans Animorphs di Indonesia ternyata cukup banyak dan banyak juga yang masih antusias berusaha mengetahui cerita selanjutnya dari sepak terjang Jake dan kawan-kawannya. Jadi sekalipun banyak diantara mereka yang sudah tahu kisah lengkap dari Animorphs lewat eBook versi Inggrisnya disini http://animorphsforum.com/ebooks/ namun tidak sedikit pula dari teman-teman yang merindukan edisi bahasa Indonesia dari Animorphs. Sedangkan untuk edisi bahasa Indonesia versi cetak yang discan, dapat diunduh melalui link berikut: http://ebukulawas.blogspot.com dimana yang tersedia disana tentu saja adalah versi cetak bahasa Indonesia edisi no 1-27.
Saya sendiri suka dengan kisah Animorphs, meskipun saya bukan salah satu dari penggemarnya yang fanatik. Saat saya bergabung di group Animorphs Indonesia yang ada di facebook, dan saat saya tahu tidak sedikit pula teman-teman yang mendambakan ebook edisi bahasa Indonesia, maka saya mencoba untuk berpartisipasi menterjemahkan ebook Animorphs versi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.
Ternyata untuk proses menerjemahkannya tidaklah mudah. Hal itu karena saya harus bisa merasakan emosi dari tokoh yang saat itu menjadi narator. Jadi Animorphs ini ditulis dengan gaya bahasa orang pertama, dimana dalam melakukan proses translate, kita benar-benar diminta untuk menggambarkan suasana hati dari si tokoh utama. Dan supaya lebih natural, saya harus menyesuaikan gaya bahasa yang digunakan oleh Jake dan teman-teman, menjadi serupa dengan apa yang sudah pernah ditulis di edisi-edisi sebelumnya.
Tapi tentu saja sebelum saya memutuskan untuk menterjemahkan buku Animorphs, saya mempunyai beberapa pertimbangan bahwa apa yang saya lakukan ini semata-mata hanyalah untuk mengobati rasa rindu dari teman-teman penggemar Animorphs di Indonesia, dan mengingat Animorphs yang terbit di Indonesia memang hanya sampai buku ke 27 saja.
Jadi dimulailah proses terjemahan buku ke 32 dengan segala kekurangan dan keterbatasannya di sana sini. Dari proses terjemahan ini, secara pribadi, banyak hal yang saya pelajari, khususnya bahwa dalam bahasa Inggris ternyata ada karya sastra yang cukup indah dalam menggambarkan keadaan alam. Dan banyak pula ungkapan2 yang terselip, yang tidak mungkin ditranslate secara langsung, melainkan harus dipahami benar2 artinya.
Salah seorang rekan saya Dewi, yang juga penggagas lahirnya blog ini, rupanya juga bersedia menterjemahkan salah satu edisi, dimana dia akhirnya berhasil menyelesaikan proses terjemahan buku edisi 34.
Blog ini berisi jurnal dari proses terjemahan buku2 Animorphs yang belum sempat terbit di Indonesia. Semoga dengan adanya blog ini, teman2 pecinta Animorphs di seluruh tanah air bisa terobati rasa kangennya terhadap kisah2 Animorphs. Kami berencana untuk melakukan terjemahan sampai edisi terakhir. Untuk itu kami mengundang teman2 yang tergerak untuk ikut berpartisipasi dalam project ini, yang ingin menyumbangkan bantuannya dalam bentuk apapun ataupun yang ingin bergabung dalam project team, silakan menghubungi admin.
Dan... selanjutnya seperti yang Rachel selalu katakan... <Ayo kita lakukan.>
| Brooke Nevin as Rachel |
Langganan:
Postingan (Atom)